Kamis, 17 Januari 2013

diagnosis kesulitan belajar


BAB II
DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR
A.    Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar (http://ebekunt.wordpress.com). Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.
Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.
Dari penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa kesulitan belajar merupakansuatu kondisi dimana terdapat suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan yang diperoleh yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu baik bersifat psikologis, sosiologis maupun fisiologis dalam proses belajar.
Salah satu cara pemberian bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar adalah berupa prosedur dan langkah-langkah yang sistematis yang disebut Diagnosis Kesulitan Belajar dan pengajaran perbaikan.(Etty Kratikawati dan Willem Lusikooy; 1993/1994).
Diagnosis merupakan istilah yang diadopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen (Abin S.M., 2002 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai berikut (Ebekunt:2009, http://ebekunt.wordpress.com) :
1.      Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symtoms);
2.      Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
3.      Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal.
Dari penjelasan di atas, dapat penulis buat suatu kesimpulan bahwa Diagnosis Kesulitan Belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar dengan mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan tertentu, serta mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
B.     Gejala dan Ciri Kesulitan Belajar
1.      Gejala kesulitan belajar
Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dkk, 1990 : 8.5 – 8.6 (Ebekunt;2009, http://ebekunt.wordpress.com), individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut:
a.       Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.
b.      Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c.       Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
e.       Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f.       Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
g.      Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dst.
Sedang Abu Daud (http://abudaud2010.blogspot.com) menjelaskan bahwa Kesulitan belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi tingkah laku. Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara langsung maupun tidak langsung, juga dalam berbagai bentuk tingkah laku. Misalnya saja, sesuai dengan pengertian kesulitan belajar, tingkah laku yang dimanifestasikannya ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu. Gejala ini akan tampak dalam aspek motorik, kognitif, konatif (kehendak) dan afektif baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya. Contoh sulit dan lambat dalam berkomunikasi.
Dari kutipan di atas, dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa gejala-gejala yang menunjukkan individu mengalami kesulitan belajar, yaitu:
1.      Hasil belajar yang dicapai berada dibawah rata-rata kelas, lebih rendah dari hasil belajar sebelumnya, serta tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
2.      Individu lambat dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru.
3.      Menunjukkan sikap yang masa bodoh, sering bolos ataupun tidak masuk sekolah, serta mudah tersinggung dan menyendiri.
2.      Ciri kesulitan belajar
Adapun ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa seperti berikut ini (Mutiara Endah; 2010, http://mutiaraendah.wordpress.com):
a.       Gangguan persepsi visual:
1)      Melihat huruf/angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali terbalik dalam menuliskan kembali
2)      Sering tertinggal huruf dalam menulis
3)      Menuliskan kata dengan urutan yang salah misalnya ibu jadi ubi
4)      Sulit memahami kanan dan kiri
5)      Bingung membedakan antara obyek dengan latar belakang
6)      Sulit mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki, dan lain-lain)
b.      Gangguan persepsi auditori
1)      Sulit membedakan bunyi: menangkap secara berbeda apa yang didengarnya
2)      Sulit memahami perintah terutama perintah yang diberikan dalam jumlah banyak dan kalimat yang panjang
3)      Bingung dan kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru sehingga sulit mengikuti diskusi karena saat mencoba mendengar sebuah informasi sudah mendapatkan gangguan dari suara lain di sekitarnya
c.       Gangguan bahasa
1)      Sulit menangkap dan memahami kalimat yang dikatakan kepadanya
2)      Sulit mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan
d.      Gangguan persepsi –motorik
1)      Kesulitan motorik halus (sulit mewarnai, menggunting, melipat, menempel, menulis rapi, memotong, dll )
2)      Memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam eraknya
e.       Hiperaktivitas
1)      Sukar mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak/menggerakkan sesuatu (tidak bisa diam)
2)      Berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas berikutnya tanpa menyelesaikan terlebih dahulu
3)      Impulsif
f.       Kacau (distractibility)
1)      Tidak dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting
2)      Tidak teratur, karena tidak memiliki urutan-urutan dalam proses berpikir
3)      Perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan (melamun/berhayal saat belajar di kelas)
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu:
1.      Dilihat dari pesepsi visualnya, ciri-ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa seperti pada saat menulis, siswa sering menulis dengan salah satu huruf yang tertinggal atau tidak lengkap.
2.      Dilihat dari persepsi auditori, ciri-cirinya seperti siswa sulit memahami perintah yang disampaikan oleh guru.
3.      Dilihat dari segi bahasa, cirinya seperti siswa sulit memahami kalimat yang disampaikn kepadanya serta sulit mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.
C.    Latar Belakang Timbulnya Kesulitan Belajar
Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan (Ebekunt; 2009,  http://ebekunt.wordpress.com):
1.      Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
a.       Faktor kejiwaan, antara lain :
1)      Minat terhadap mata pelajaran kurang;
2)      Motif belajar rendah;
3)      Rasa percaya diri kurang;
4)      Disiplin pribadi rendah;
5)      Sering meremehkan persoalan;
6)      Sering mengalami konflik psikis;
7)      Integritas kepribadian lemah.
b.      Faktor kejasmanian, antara lain :
1)      Keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
2)      Adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
3)      Adanya gangguan pada fungsi indera;
4)      Kelelahan secara fisik.
2.      Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar peserta didik. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua : faktor instrumental dan faktor lingkungan.
a.       Faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa antara lain :
1)      Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;
2)      Kurikulum yang terlalu berat bagi pesert didik;
3)      Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;
4)      Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
b.      Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :
1)      Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
2)      Lingkungan sosial sekolah yang tidak kondusif
3)      Teman-teman bergaul yang tidak baik;
4)      Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.
Dari berbagai faktor yang melatarbelakangi timbulnya kesulitan belajar siswa, penulis berpendapat bahwa faktor yang melatarbelakangi tersebut, yaitu:
1.      Faktor internal
Faktor internal ini berasal dari dalam diri individu atau siswa itu sendiri. Faktor internal ini seperti :
a.       Inteligensi siswa,
b.      Minat belajar siswa,
c.       Kesehatan siswa,
d.      Gizi siswa, dll.
2.      Faktor eksternal
Faktor eksternal ini berasal dari luar diri individu seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal, teman sebaya, serta fasilitas belajar baik itu di sekolah maupun di rumah. Di lingkungan keluarga seperti bagaimana kondisi dalam keluarga, posisi siswa dalam keluarga. Di lingkungan sekolah seperti bagaimana perhatian guru terhadap siswa. Selain itu, kelengkapan fasilitas belajar juga dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa, kemudian suasana saat peserta didik belajar juga sangat berpengaruh pada minat belajar peserta  didik.
D.    Tujuan Pelaksanaan Kegiatan Diagnosis Kesulitan Belajar
Ramdhani (http://feyra-gokil.blogspot.com) menjelaskan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan mempunyai tujuan yang baik yang ingin dicapai, dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, begitu pula dengan kegiatan ini. Pelaksanaan kegiatan Diagnosis Kesulitan Belajar melibatkan guru dan siswa, maka tujuan yang ingin dicapai juga berbeda antara guru dan siswa.
1.      Siswa
Tujuan yang hendak dicapai setelah pelaksanaan kegiatan diagnosis kesulitan belajar ini bagi siswa adalah :
a.       Siswa memahami dan mengetahui kekeliruannya.
b.      Siswa memperbaiki kesalahannya
c.       Siswa dapat memilih cara atau metode untuk memperbaiki kesalahannya
d.      Siswa dapat menguasai pelajaran dengan baik.
e.       Siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
2.      Guru
Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan Diagnosis Kesulitan Belajar bagi Guru adalah :
a.       Guru mengetahui kelemahan dalam proses belajar –mengajar.
b.      Guru dapat memperbaiki kelemahannya tersebut.
c.       Guru dapat memberikan layanan yang optimal kepada siswa sesuai dengan keadaan diri siswa perkembangannya siswa dapat terlaksana dengan baik.
Dari kutipan di atas, penulis menyimpulkan bahwa tujuan pelaksanaan kegiatan diagnosis adalah agar guru, peserta didik dan orang tua peserta didik dapat:
1.      Mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh peserta didik.
2.      Membantu memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh peserta  didik dengan adanya kerjasama antara pihak sekolah, peserta didik dan keluarga.
3.      Membantu pesert didik agar dapat menguasai pelajaran yang sulit baginya, serta mempermudah guru dalam menentukan layanan apa yang sesuai dengan kesulitan yang dialami oleh peserta didik.

E.     Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar yang Dialami Siswa
Menurut Hallen A: 2005 (Mayasa: 2012, http://m4y-a5a.blogspot.com), langkah-langkah yang perlu ditempuh guru untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, dapat dilakukan dalam enam tahap. Adapun keenam tahap tersebut, yaitu:
1.      Mengenal siswa yang mengalami kesulitan belajar
Cara yang paling mudah untuk mengenali siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah dengan cara mengenali nama siswa.
2.      Memaham sifat dan jenis kesulitan belajarnya
Langkah kedua dalam mengatasi kesulitan belajar adalah mencari dalam mata pelajaran apa saja siswa ini (kasus) mengalami kesulitan dalam belajar.
3.      Menetapkan latar belakang kesulitan belajar
Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi sebab timbulnya kesulitan belajar baik yang terletak di dalam diri siswa sendiri maupun diluar dirinya.
4.      Menetapkan usaha-usaha bantuan
Setelah diketahui sifat dan jenis kesulitan serta latar belakangnya, maka langkah selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan yang akan diberikan, berdasarkan data yang akan di peroleh.
5.      Pelaksanaan bantuan
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan kemungkinan usaha bantuan. Pemberian bantuan diaksanakan secara terus-menerus dan terah dengan disertai penilaian yang tepat sampai pada saat yang telah diperkirakan.
6.      Tindak lanjut
Tujuan langkah ini untuk menilai sampai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut dilakukan secara terus-menerus, dengan langkah ini dapat diketahui keberhasilan usaha bantuan.
Sedangkan menurut Etty Kartikawati dan Willem Lusikooy (1993/1994), langkah-langkah diagnostik terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu:
1.      Identifikasi kasus
a.       Tujuannya : untuk mencari dan menemukan di antara siswa-siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar yang serius dan yang memerlukan bantuan.
b.      Tekniknya : dengan memanfaatkna catatan atau rekaman tentang hal ikhwal yang menyangkut kegiatan belajarnya untuk dianalisis.
c.       Prosedurnya : mengumpulkan nilai-nilai dar seluruh bidang studi dalam satu kelas untuk:
1)      Dihitung bagaimana rata-rata bagi setiap guru.
2)      Kemudian dihitung nilai rata-rata seluruh siswa di kelas itu.
3)      Lalu buat grafik untuk mengetahui posisi siswa dalam kelas berdasarkan nilai rata-rata itu.
4)      Setelah itu, dapatlah diketahui bahwa ada siswa yang nilai rata-ratanya berada di bawah rata-rata umum kelas, ditandai sebagai siswa yang berprestasi rendah dan ia tentu mengalami kesulitan belajar.
5)      Pada akhirnya ditetapkan siswa-siswa yang paling banyak mengalami kesulitan belajar adalah mereka yang mengalami nilai rata-ratanya di bawah rata-rata nilai umum kelas, misalkan nilai-nilai yang paling rendah adalah bidang studi Bahasa Indonesia dan Matematika.
2.      Melakukan diagnosis
a.       Tujuan : mengetahui secara tepat lokasi kesulitan belajar tersebut dalam bidng studi apa saja. Juga untuk mengetahui secara pasti jenis kesulitan yang dialami serta enemukan latar belakang apakah yang menyebabkan timbulnya kesulitan.
b.      Teknik : melakukan analisis documenter, melakukan wawancara, melakukan observasi (pengamatan), melakukan tes dalam berbagai jenisnya, melakukan pengukuran dengan teknik sosiometri.
c.       Prosedurnya :
1)      Menyusun rata-rata nilai dari nilai bidang studi.
2)      Membuat grafik tentang kedudukan siswa yang mengalami kedulitan belajar dalam bidang studi tersebut.
3)      Kemudian menetapkan tempat(elokasi) dalam bidang studi apa saja bagi siswa tersebut, mengalami kesulitan belajar, hal ini dapat pula dibantu oleh rapor dan hasil ulangan.
4)      Kemudian menetapkan siswa mana yang mendapat prioritas pelayanan karena paling banyak menemui kesulitan belajar.
d.      Menetapkan jenis dan macam kesulitan yang dihadapi siswa dengan cara:
1)      Menganalisis hasil pekerjaan siswa dalam bidang studi tertentu yang diduga menimbulkan kesulitan kepadanya.
2)      Guru bidang studi yang bersangkutan diwawancarai.
3)      Iswa yang bersangkutan diwawancarai.
4)      Melakukan tes (psikotest atau  diagnostic tes).
e.       Berusaha mengungkapkan latar belakang kesulitan, dengan cara-cara:
1)      Menganalisis dokumen-dokumen tentang data siswa yang bersangkutan yang mencakup: indentitas pribadi, riwayat pendidikan, prestasi belajar, latar belakang kehidupan keluarga, bakat dan minatnya, kecerdasan, cita-citanya, pribadi serta lingkungannya (social dan kulturalnya), kesehataa, kegemaran (hobby).
2)      Melakukan wawancara dengan siswa,orang tua siswa yang bersangkutan, dan seterusnya.
3)      Melakukan pengukuran dimensi hubungan sosialnya dengan sosiometri.
4)      Melakukan pengamatan (obsevasi) terhadap siswa yang bersangkutan pada waktu belajar.
3.      Melakukan prognosis
a.       Tujuan : untuk menetapkan macan dan teknik pemberian bantuan yang sesuai dengan corak kesulitan yang dihadapi siswa.
b.      Prosedur :
1)      Boala siswa menemukan kesulitan disebabkan oleh latar belakang pribadi, maka hendaknya diberikan bantuan melalui konseling.
2)      Bila disebabkan oleh gangguan mental, nervus, gangguan kesehatan jasmani dan sebagainya, maka hendaknya dilimpahkan kepada dokter ahli yang bersangkutan.
3)      Bila berlatar belakang pada sikap social, maka perlu diberi bantuan dengan menggunakan bimbingan kelompok, karena dengan cara ini siswa akan dilatih kembali untuk bersikap social yang memungkinkan ia dapat melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan, juga dengan memberikan tugas kegiatan tertentu yang membawanya kea rah hidup saling membantu, maka siswa yang bersangkutan akan terpupuk rasa sosialnya.
4.      Melakukan langkah pemberian bantuan
a.       Tujuan : untuk memberikan bantuan kepada siswa yang bersangkutan agar mampu mengatasi kesulitan belajar yang dialami dengan kemampuan sendiri sehingga dapat mencapai hasil yang optimal serta dapat bersikap menyesuaikan diri yang sehat.
b.      Teknik : memilih salah satu teknik pemberian bantuan yang telah dipilih yang meliputi:
1)      Remedial Teaching : memberikan pelajaran tambahan berupa kursus-kursus (private less) dan cara lain tentang bidang studi yang lemah, dengan tujuan agar kelemahan tersebut bagi siswa yang bersangkutan dapat ditingkatkan kemajuannya (disembuhkan).
2)      Memberi konseling kepada siswa yang bersangkutan tentang hal-hal yang menghambat kemajuan belajarnya,
3)      Melakukan bimbingan kelompok terhadap siswa yang dihambat oleh sikap sosialnya yang kurang dapat menyesuaikan diri dalam pergaulan.
4)      Melakukan perlimpahan (referral) kepada ahli lain di bidangnya.
5.      Melakukan tindak lanjut (follow up servise)
a.       Tujuan : untuk mengetahui sejauhmana hasil pemberian bantuan tersebut yang telah diberikan kepada siswa dalam rangka memperbaiki kegiatan belajarnya lebih lanjut.
b.      Teknik : dengan melakukan tes kemajuan belajar atau psikotes atau dengan memberikan wawancara kepada siswa yang ebrsangkutan tentang kemajuan belajarnya dalam bidang studi tertentu, ditambah lagi dengan melakukan analisis dokumen seperti hasil ulangan, hasil tes. Juga mengadakan observasi (pengamatan) tentang sejauh mana perubahan tingkah laku siswa dalam melakukan kegiatan belajar lebih lanjut.
c.       Prosedur:
1)      Mengetes siswa dalam bidang studi yang semula mengalami hambatan.
2)      Mewawancarai siswa tentang sikap dan penderitaannya mengenai kesulitan-kesulitan yang dirasakan.
3)      Mewawancarai guru bidang studi yang bersangkutan tentang perubahan yang terjadi pada siswa yang bersangkutan, dan juga melakukan wawancara dengan orang tua atau siswa tentang kemajuan belajarnya di rumah dan seterusnya.
4)      Menganalisis tentang informasi dan hasil belajar siswa yang bersangkutan.
5)      Melakukan pengamatan (observasi) kegiatan belajar siswa yang bersangkutan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Penjelasan dari beberapa ahli di atas dapat penulis simpulkan bahwa upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik, yaitu:
1.      Mengidentifikasi peserta didk yang mengalami kesulitan belajar.
2.      Mengidentifikasi jenis kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik.
3.      Mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kesulitan belajar pada peserta didik tersebut.
4.      Merencanakan suatu tindakan bantuan yang dibutuhkan oleh peserta didik berdasarkan hasil pengungkapan factor penyebab kesulitan belajar tersebut.
5.      Melaksanakan pemberian bantuan kepada peserta didik dengn memberikan pelajaran tambahan kepada peserta didik.
6.      Memberikan tindak lanjut, bagaimana hasil yang didapatkan setelah diberikan bantuan.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Etty Kartikawati dan Willem Lusikooy. 1993/1994. Materi Pokok; Profesi Keguruan PGSM3904/2SKS Modul 1-6. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.
Roy Ihsan. 2011. Persepsi Peserta Didik Tentang Manfaat Kegiatan Ekstrakurikuler Bagi Pengembangan Diri Di MTS Darul Ulum Kiawai Kab. Pasaman Barat (SKRIPSI). Padang; BK STKIP PGRI.
Puspita Sari. 2012. Pendapat Peserta Didik Terhadap Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Pengembangan Diri Di SMP Negeri 28 Padang (SKRIPSI). Padang; BK STKIP PGRI.
Gebrielleizious. 2011. Diagnosis Kesulitan Belajar. http://gebriellucifer.blogspot.com. Minggu, 14 Agustus 2011
Ebekunt. 2009. Diagnosis Kesulitan Belajar. http://ebekunt.wordpress.com. 12 April 2009.
Abu Daud. 2011. Kesulitan Belajar. http://abudaud2010.blogspot.com. Sabtu, 29 Januari 2011.
Mutiara Endah. 2010. Ciri-Ciri Kesulitan Belajar. http://mutiaraendah.wordpress.com. 10 Januari 2010.
Ramdhani. 2011. Tujuan Pelaksanaan Diagnosis Kesulitan Hasil Belajar. http://feyra-gokil.blogspot.com. Juli 2011. Jam 10:21 WIB.
Mayasa. 2012. Langkah-Langkah Mengatasi Kesulitan Belajar. http://m4y-a5a.blogspot.com. Juni 2012. Jam 00:30 WIB.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar